Pada Selasa, 23 September 2025, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kembali hadir di Kampung Ilmu, Purwakarta, melalui berbagai kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas). Kali ini, lima kelompok riset dan laboratorium ikut berkontribusi: Kelompok Riset Psikologi Keluarga, Lab Psikologi Lalu Lintas, Kelompok Riset Psikologi Ekonomi dan Konsumen, Lab CAW (Cognitive, Affect, and Well-being), serta Lab LEdS (Learning, Education, and School Wellbeing).
Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian kampus terhadap fenomena sosial yang nyata di masyarakat, sekaligus menghadirkan solusi berbasis riset psikologi.
Menyelami Realitas Pernikahan Dini – Kelompok Riset Psikologi Keluarga
Kepedulian Kelompok Riset (KR) Psikologi Keluarga terhadap fenomena pernikahan dini di Purwakarta, khususnya di sekitar Kampung Ilmu, mendorong mereka untuk terjun langsung menggali realitas kehidupan keluarga muda dan remaja. Tim peneliti yang terdiri dari Fivi Nurwianti, Rini Hildayani, Widya, dan Rianda telah melakukan dua kali kunjungan.
- Kunjungan pertama berfokus pada cerita awal mula terjadinya pernikahan dini, dinamika rumah tangga keluarga muda, serta persepsi remaja mengenai hubungan romantis.
- Kunjungan kedua menyoroti dua hal utama:
- Pengasuhan anak usia dini. Melalui wawancara dan observasi interaksi ibu-anak dalam kegiatan bermain, tim ingin memahami pengalaman pengasuhan ibu yang menikah dini dibandingkan dengan ibu yang menikah pada usia dewasa. Data yang dikumpulkan mencakup tantangan, strategi coping, kekuatan, dan keterbatasan dalam pengasuhan. Hasilnya akan menjadi dasar rekomendasi untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan pengasuhan, agar relasi pasangan lebih harmonis dan anak-anak dapat tumbuh berkualitas.
- Persepsi remaja tentang pernikahan dan relasi romantis. Berdasarkan data, pernikahan dini banyak terjadi pada remaja yang tidak melanjutkan SMK atau sudah bekerja setelah SMP. Melalui wawancara dengan remaja laki-laki dan perempuan, peneliti mengumpulkan pandangan mereka mengenai perkawinan dan hubungan romantis. Harapannya, data ini mampu mengungkap faktor risiko maupun faktor protektif yang berpengaruh pada terjadinya pernikahan dini.
Melalui pengalaman turun langsung dan berinteraksi dengan para ibu muda serta remaja, peneliti mendapat pemahaman kontekstual yang lebih realistis. Hal ini menjadi pijakan penting dalam merumuskan rekomendasi terkait fenomena pernikahan dini di Purwakarta.
Edukasi Keselamatan Berkendara – Laboratorium Psikologi Lalu Lintas
Kesadaran berkendara di kalangan remaja menjadi perhatian Lab Psikologi Lalu Lintas. Difasilitasi oleh Wahyu Fatmawati, S.Psi., Muhammad Farhan Indra, S.Pd., dan Hanifah Addini, S.Si., mereka mengadakan sesi edukasi untuk 32 siswa kelas 10 dan 11 SMK—kelompok usia yang rentan kecelakaan lalu lintas.
Kegiatan mencakup pretest, pemaparan materi, diskusi interaktif, pembagian booklet, hingga permainan ice breaking untuk menjaga suasana tetap hidup. Materi disusun sesuai kebiasaan setempat, seperti penggunaan ponsel saat berkendara atau membonceng lebih dari dua orang.
Peserta diajak menyadari betapa mahalnya konsekuensi dari perilaku berisiko, sekaligus menanamkan kebiasaan sederhana: utamakan keselamatan di jalan.
Literasi Keuangan – Kelompok Riset Psikologi Ekonomi dan Konsumen
Tidak sampai tiga bulan sejak program literasi keuangan dimulai pada Juli 2025, hasilnya sudah terasa nyata di Kampung Ilmu. Kini, 65 ibu dan 60 anak aktif menabung setiap hari, bahkan dari nominal kecil Rp2.000.
Perubahan pun terlihat: anak-anak mengurangi jajan, ibu-ibu mulai berhemat dan menanam sayuran, sementara bapak-bapak mengurangi pengeluaran rokok. Menu harian pun meningkat gizi dengan adanya telur sebagai tambahan.
Perayaan keberhasilan ini diwarnai permainan seru, hadiah, pembagian celengan, hingga buku anggaran. Lebih dari sekadar uang, program ini menumbuhkan semangat melawan bank emok dan membuka harapan untuk pendidikan anak yang lebih baik.
Laboratorium CAW: Belajar Berpraktik Baik Menyulap Sampah Organik Jadi “Harta” Bernilai
Laboratorium Cognitive, Affect, and Well-being (CAW) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kembali hadir di Kampung Ilmu dengan edukasi lanjutan tentang pengelolaan sampah. Kegiatan ini melanjutkan pertemuan sebelumnya pada 21 Agustus dan 10 September, yang membahas pemilahan sampah organik, anorganik, hingga B3.
Lewat kerja sama dengan Kampung Ilmu, warga bukan hanya diajak memilah sampah, tetapi juga didorong untuk terhubung dengan bank sampah. Hasilnya, rumah lebih bersih sekaligus menambah tabungan keluarga.
Pada sesi terbaru, fokus beralih ke pengolahan sampah organik. Dr. Dipl. Psych. Ratna Djuwita, Psikolog, bersama Almas Nuriyatul Fadhilah, S.Psi., memandu warga mengenal jenis-jenis sampah organik, teknik membuat kompos dan eco enzyme, serta manfaatnya. Tak sekadar teori, peserta juga ikut praktik langsung membuat kompos dan eco enzyme.
Sebanyak 25 warga hadir dengan antusias. Banyak yang mengaku ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah. Sebagai penutup, tim membagikan contoh produk eco enzyme siap pakai serta bibit tanaman untuk dibudidayakan.
Langkah kecil ini diharapkan menjadi awal kebiasaan berkelanjutan: mengubah sampah organik menjadi sumber manfaat, menjaga lingkungan tetap sehat, dan sekaligus memberi nilai ekonomis bagi masyarakat.
Meningkatkan Aspirasi Akademik – Laboratorium LEdS
Di SMP Negeri 3 Tegalwaru, Lab Learning, Education, and School Wellbeing (LEdS) menyelenggarakan pelatihan untuk guru dan psikoedukasi bagi siswa.
Tim Lab LEdS:
- Tjut Rifameutia, M.A., Psikolog
- Eva Septiana, M.Si., Psikolog
- Wuri Prasetyawati, M.Psi., Ph.D., Psikolog
- Aully Grashinta, M.Si., Psikolog
- Syifa Adhilah, S.Ag.
- Intan Baiduri, S.Pd.
Kegiatan ini mengusung dua fokus utama:
- Pelatihan guru dengan tema “Menciptakan Lingkungan Belajar Inspiratif: Sinergi Mengajar dan Aspirasi Akademik.” Guru diajak merefleksikan peran mereka sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, sekaligus teladan yang mampu menumbuhkan semangat belajar siswa.
- Sesi siswa bertajuk “Aspirasi Akademik, Percaya Diri, dan Goal Setting.” Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, brainstorming, hingga permainan, sehingga siswa dapat memahami pentingnya membangun kepercayaan diri, mimpi, dan langkah nyata untuk meraihnya.
Suasana kegiatan hangat sejak awal. Guru dan siswa terlibat aktif, baik dalam tanya jawab maupun refleksi. Strategi praktis seperti penerapan growth mindset, pembelajaran aktif berbasis proyek, serta penghargaan atas usaha diperkenalkan sebagai cara sederhana menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif.
Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan pemahaman peserta. Evaluasi pun memberi penilaian sangat baik—di atas 4 dari skala 5. Guru merasa kegiatan ini bermanfaat, meski berharap durasi lebih panjang dan dilanjutkan dengan program pendampingan.
Melalui kegiatan ini, LEdS berharap dapat memperkuat kapasitas guru dan memotivasi siswa agar memiliki aspirasi akademik yang lebih terarah, sehingga sekolah menjadi ruang yang benar-benar mendukung tumbuhnya cita-cita.
Hari itu, Kampung Ilmu bukan sekadar lokasi kegiatan, tetapi ruang belajar bersama antara kampus dan masyarakat. Dari isu pernikahan dini, keselamatan lalu lintas, literasi keuangan, pengelolaan sampah organik, hingga aspirasi akademik siswa, semua menyatu dalam semangat pengabdian.
Hasilnya bukan hanya data riset atau laporan kegiatan, melainkan tumbuhnya harapan baru: generasi muda yang lebih siap, keluarga yang lebih kuat, masyarakat yang lebih mandiri, dan lingkungan yang lebih sehat.
