Selama tiga hari berturut-turut, Ibu Ina, dosen IPB University yang mencintai tanaman, bersama Nurul, Siska, dan Ilis selaku relawan Kampung Ilmu, melakukan kunjungan marathon ke rumah ibu hamil, ibu menyusui, dan kader Desa Cisarua yang menerima bantuan planterbag. Dari kegiatan ini, tercatat hampir sekitar 170 penerima pinjaman planterbag yang menjadi bagian dari survei dan evaluasi program. Kunjungan dilakukan dari rumah ke rumah untuk melihat perkembangan tanaman, mendengarkan pengalaman penerima manfaat, sekaligus melakukan evaluasi program.
Program Kebun Gizi Keluarga ini sejak awal bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga, membantu mengurangi pengeluaran dapur, serta sebagai salah satu upaya pencegahan stunting karena sasaran awal program adalah ibu hamil dan ibu menyusui agar keluarga memiliki akses sayuran segar dari pekarangan sendiri.
Jenis Planterbag dan Tanaman
Pada tahap awal, setiap penerima mendapatkan 10 planterbag ukuran 50 liter yang ditanami berbagai tanaman seperti katuk, kelor, kangkung, bayam, jeruk nipis atau limau. Tanaman tersebut dipilih karena bermanfaat untuk kebutuhan dapur sehari-hari dan kesehatan keluarga, terutama untuk ibu hamil dan ibu menyusui.
Pada tahap berikutnya, ditambahkan planterbag ukuran 11 liter. Namun dalam pelaksanaannya, planterbag ukuran kecil ini kurang berhasil karena media tanamnya cukup keras sehingga tanaman tidak tumbuh optimal. Setelah ditelusuri, beberapa warga yang berinisiatif menggemburkan media tanam dan menambahkan pupuk kohe justru mendapatkan hasil tanaman yang cukup subur. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan media tanam sangat berpengaruh terhadap keberhasilan tanaman.
Dasar Penilaian Program Planterbag
Evaluasi program dilakukan berdasarkan tiga dimensi, yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial, dan dimensi keberlanjutan.
Dimensi Ekonomi
Penilaian dimensi ekonomi didasarkan pada beberapa hal, yaitu apakah hasil tanaman membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, apakah pengeluaran dapur dapat ditabung untuk keperluan lain, apakah ada tambahan penghasilan dari hasil penjualan tanaman, serta apakah planterbag membuat keluarga lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Dari hasil kunjungan dan wawancara, semua penerima planterbag merasakan manfaatnya, terutama yang menggunakan planterbag ukuran 50 liter. Tanaman yang dihasilkan cukup membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga karena sebagian kebutuhan dapur tidak perlu membeli.
Namun, hampir semua penerima manfaat belum menabung uang dari pengeluaran dapur yang berkurang. Uang tersebut biasanya dialihkan untuk kebutuhan lain seperti jajan anak atau kebutuhan rumah tangga lainnya.
Untuk tambahan penghasilan, baru dua orang yang mencoba menjual hasil tanaman dari planterbag. Sebagian besar hasil panen masih digunakan untuk konsumsi pribadi dan berbagi dengan tetangga.
Secara umum, penggunaan planterbag membuat penerima manfaat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari karena mereka dapat memanen sayuran sendiri saat dibutuhkan.
Dimensi Sosial
Pada dimensi sosial, penilaian dilakukan berdasarkan apakah kegiatan menanam meningkatkan interaksi dengan tetangga atau kelompok, apakah penerima merasa lebih termotivasi dan percaya diri, serta apakah program mendorong berbagi pengetahuan antar masyarakat.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 68% penerima manfaat merasa kegiatan menanam dengan planterbag meningkatkan interaksi dengan tetangga, seperti bertukar bibit, berbagi hasil panen, dan saling bertukar informasi tentang cara menanam. Namun, sebanyak 32% lainnya merasa kegiatan menanam tidak terlalu meningkatkan interaksi karena mereka lebih banyak merawat tanaman sendiri di rumah.
Sebagian besar penerima planterbag juga merasa lebih termotivasi dan percaya diri dalam melakukan kegiatan produktif setelah menerima bantuan planterbag. Selain itu, bantuan planterbag juga mendorong masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bercocok tanam.
Dimensi Keberlanjutan
Dimensi keberlanjutan melihat apakah masyarakat tetap menanam secara rutin, memiliki komitmen untuk terus menanam setelah program selesai, serta mulai menerapkan praktik ramah lingkungan.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa hanya sekitar 2% penerima yang tidak rutin dan konsisten menggunakan planterbag untuk menanam tanaman. Sebanyak 91% penerima memiliki komitmen untuk tetap menanam meskipun program bantuan telah selesai. Hanya sekitar 9% yang tidak berencana melanjutkan karena masih memiliki anak kecil atau kesibukan usaha warung sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk merawat tanaman.
Dalam hal praktik ramah lingkungan, sebanyak 98% penerima menggunakan pupuk organik seperti kohe kambing, ayam, dan sapi maupun kompos. Hanya sekitar 2% yang masih menggunakan pupuk urea.
Kesimpulan
Dari hasil kunjungan dan evaluasi program selama tiga hari, dapat disimpulkan bahwa program planterbag memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Desa Cisarua, terutama dalam membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, meningkatkan kemandirian pangan keluarga, serta meningkatkan motivasi dan kegiatan produktif masyarakat.
Program ini juga memberikan dampak sosial yang baik karena mendorong interaksi, berbagi bibit, berbagi hasil panen, serta berbagi pengetahuan antar masyarakat. Dari sisi keberlanjutan, sebagian besar penerima masih rutin menanam dan memiliki komitmen untuk terus menanam meskipun program bantuan telah selesai.
Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan waktu terutama bagi ibu yang memiliki anak kecil serta media tanam yang kurang baik pada planterbag ukuran kecil. Oleh karena itu, ke depan program ini diharapkan dapat disertai dengan pendampingan pengolahan media tanam, pembuatan pupuk organik yang benar, serta teknik perawatan tanaman yang sederhana agar program planterbag dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.