4x bet1 win casino1win aviatorparimatch1win aviator1win casinomostbet azmostbet india1win saytilucky jet online1 winpin up casinomostbet aviator login1win loginmosbet aviatoraviatorмостбетlucky jetpin up az4rabet bangladeshmostbet kzparimatchlucky jet casinomostbet casinopin up1win1win kzpin up bet1 win aviatorpinupmosbetmostbet casinopin-up1win lucky jetpin up casinopinup login1win apostamosbetmostbet casinoone win gamelucky jet xmosbet indiapinup kzpin up4r bet4rabetmostbet casino1win casinolucky jet crashmosbet casino1win lucky jet

Survey Tim FKG UI ke Kampung Ilmu: Persiapan Pengabdian Masyarakat ke-4

Kampung Ilmu kembali kedatangan tamu istimewa dalam semangat kolaborasi demi kemajuan kesehatan masyarakat. Tim survey dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), yaitu drg. Benso Sulijaya, Sp.Perio(K), Ph.D., drg. Shafiyya Nurul Izza, dan Ibu Iis, menyambangi wilayah Tegalwaru, Purwakarta sebagai bagian dari rencana program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) keempat mereka bersama Kampung Ilmu.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Puskesmas Tegalwaru, tempat penanganan beragam kondisi kesehatan masyarakat. Dari diskusi dengan Kepala Puskesmas terungkap data jumlah stunting yang terus meningkat hingga kini menyentuh 90 kasus — menjadi keprihatinan bersama. Penyakit seperti hipertensi, ISPA, diabetes, reumatik, diare, hingga gangguan kulit juga tercatat sebagai masalah dominan yang perlu ditangani tenaga kesehatan di Tegalwaru – Purwakarta.

Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan ke Kampung Ilmu. Di Rumah Digital, diskusi hangat berlangsung bersama Bu Nining dan relawan Kampung Ilmu, membahas strategi pelaksanaan Pengmas tahun ini yang menjadi tahun ke-4 kolaborasi berkelanjutan FKG UI dan Kampung Ilmu.

Tahun-tahun sebelumnya, FKG UI telah menggandeng Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Keperawatan, Ladogi AL, Unilever, dan media massa dalam mendukung kegiatan ini. Tahun ini, rencana akan menggandeng juga Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang diharapkan dapat mendorong pemberdayaan ekonomi warga melalui pelatihan kewirausahaan.

Namun, menurut Bu Nining, yang lebih mendesak saat ini bukan hanya pengetahuan berwirausaha, tetapi bagaimana warga dapat tercerahkan secara praktis — seperti dengan menanam sayuran gizi di pekarangan sendiri. Inisiatif kebun gizi organik ini tak hanya mendukung program penanggulangan stunting, tapi juga mendorong kemandirian pangan: warga mampu memenuhi sebagian kebutuhan dapur dari kebun sendiri, menghemat pengeluaran, dan menjaga asupan gizi keluarga.

Kunjungan ke sekolah-sekolah seperti SDN 02 Cisarua, SMPN 03 Tegalwaru, dan SDN 01 Cisarua mengungkap tantangan lain yang cukup mendesak: belum adanya kantin sekolah yang menyediakan makanan sehat. Akibatnya, siswa diminta membawa bekal dari rumah atau setidaknya sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa justru memilih jajan di sekitar lingkungan sekolah. Sayangnya, jajanan yang tersedia umumnya tidak terjamin kebersihan dan keamanannya, bahkan cenderung rendah gizi — mulai dari minuman berpewarna dengan kandungan gula tinggi hingga camilan berbahan dasar aci yang miskin nutrisi.

Kalaupun membawa bekal sendiri, masih banyak keluarga yang belum menerapkan prinsip gizi seimbang. Bekal yang dibawa lebih fokus pada mengenyangkan, dengan dominasi karbohidrat, tanpa memperhatikan kebutuhan protein, serat, maupun vitamin dan mineral. Kondisi ini menegaskan urgensi intervensi gizi seimbang yang menyasar tidak hanya siswa, tapi juga guru dan orang tua. Edukasi yang menyeluruh diperlukan agar seluruh ekosistem pendidikan dapat bergerak bersama dalam membentuk pola makan sehat sejak dini.

Sementara itu, Balai Desa Cisarua atau gedung “Solusi Akademi” tengah dipertimbangkan sebagai lokasi penyuluhan bagi ibu hamil dan kader desa. Di lokasi ini akan dilaksanakan serangkaian kegiatan terpadu yang dirancang untuk mendukung upaya penanggulangan stunting, khususnya pada fase krusial 1.000 hari pertama kehidupan — periode emas sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kegiatan yang dirancang meliputi edukasi gizi, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemeriksaan ibu hamil, hingga demo masak makanan bergizi.

Demo masak ini bukan sekadar ajang mempraktikkan resep sehat, tetapi juga menjadi sarana edukatif bagi para ibu agar memahami cara memasak yang baik dan benar — menjaga kandungan protein, vitamin, dan mineral tetap utuh sehingga asupan gizi tidak hilang akibat teknik memasak yang keliru. Dengan pengetahuan yang langsung bisa diterapkan di dapur rumah, diharapkan perubahan nyata akan bermula dari meja makan keluarga.

Rencana mendatangkan dua mesin USG dari FK UI turut memperkuat aspek layanan preventif dan edukatif dalam pemeriksaan kehamilan, memberi akses yang lebih merata bagi para ibu untuk menjaga kesehatan diri dan janin sejak dini.

Tentunya, agar seluruh rangkaian kegiatan Pengmas ini dapat berjalan dengan lancar, aman, dan menjangkau lebih banyak warga, besar harapan kami agar akses jalan menuju lokasi — khususnya bagi ibu hamil — dapat segera diperbaiki. Infrastruktur yang baik bukan hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga memperkuat langkah bersama dalam membangun masyarakat yang sehat dan mandiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top