Selasa, 14 April 2026, Kampung Ilmu kembali menjadi ruang belajar bersama. Untuk kesekian kalinya, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, kembali mengunjungi Kampung Ilmu. Kunjungan ini menunjukkan perhatian dan komitmen yang terus berlanjut terhadap berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat yang tumbuh di Kampung Ilmu.
Kali ini, beliau hadir bersama staf ahli, termasuk Staf Khusus Menteri Bidang Ekonomi Perempuan Patimasang M. Parawansah, serta perwakilan dunia usaha seperti Astra, Artha Graha, dan Sinar Mas.
Bertempat di Ruang Kolaborasi, suasana diskusi berlangsung santai, namun penuh gagasan besar.
Tak hanya itu, diperkenalkan pula inovasi tobong yang tengah dikembangkan oleh Pak Juang dan Achmad Ilyas. Tobong ini merupakan dryer dome dengan teknologi ramah lingkungan yang memanfaatkan sampah sebagai sumber panas untuk mengeringkan hasil panen. Sebuah solusi sederhana namun berdampak besar, baik untuk pengelolaan limbah maupun peningkatan kualitas hasil pertanian.
Dalam diskusi, Imam Prasodjo juga menyampaikan pandangan yang cukup kritis namun mendasar. Ia menekankan bahwa jika tujuan utama program MBG adalah mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan tangguh, maka intervensi seharusnya dimulai dari fase paling awal kehidupan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Kalau anak tingkat SD sampai SMA, sebenarnya sudah terlambat,” ungkapnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, yang dikenal sebagai masa emas perkembangan manusia.
Dari pemikiran inilah, Kampung Ilmu menggagas program Kebun Gizi Organik Keluarga serta budidaya ayam kampung petelur. Setiap rumah didorong untuk menanam sayur dan buah di pekarangan, serta memelihara ayam petelur.
Pendekatannya pun berbeda. Kampung Ilmu tidak memberikan telur secara langsung, tetapi memberikan ayam petelur. Tujuannya agar keluarga memiliki sumber protein hewani yang berkelanjutan. Bahkan, telur yang dihasilkan dapat ditetaskan kembali untuk memperluas usaha ternak.
Dalam diskusi tersebut, Veronica Tan menyampaikan dukungannya terhadap berbagai inisiatif yang dilakukan Kampung Ilmu. Ia juga memaparkan rencana program magang di bidang pertanian dan peternakan bagi daerah 3T seperti Maluku Utara, NTT, dan Bone, Sulawesi Selatan.
Yang menjadi penekanan utama adalah pendampingan. Menurutnya, peserta magang tidak cukup hanya belajar, tetapi harus didampingi agar benar-benar mampu mengimplementasikan ilmu yang didapat di daerah masing-masing.
Untuk itu, Kementerian PPPA juga bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam penyediaan lahan yang dapat dikelola menjadi sentra swasembada pangan dan pakan.
Ia juga sepakat bahwa perubahan mindset terkait pemenuhan gizi harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
Usai diskusi, rombongan diajak berkeliling melihat langsung berbagai pusat kegiatan di Kampung Ilmu.
Kunjungan dimulai dari tobong, tempat di mana dryer dome sedang dibangun dengan teknologi pemanas ramah lingkungan. Perjalanan berlanjut ke hanggar konsentrat, pusat produksi pakan ternak untuk kambing, unggas, dan ikan. Kemudian menuju sentra kandang ayam petelur yang menjadi bagian penting dari program ketahanan pangan keluarga.
Kunjungan berlanjut ke Dapur MBG Kampung Ilmu yang kini hampir selesai dibangun.
Di sini, Imam Prasodjo menjelaskan berbagai keunggulan dapur tersebut. Selain memiliki kapasitas yang luas, aspek higienitas menjadi perhatian utama. Mulai dari kualitas bahan baku, penggunaan air bersih dengan teknologi ultraviolet dan filter berlapis, hingga sistem pengelolaan limbah melalui IPAL.
Dapur ini juga dilengkapi dengan sistem QR code pada setiap wadah makanan, yang memungkinkan pemantauan kandungan gizi, distribusi, hingga evaluasi secara menyeluruh.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Alumni Jerman, Ir. Vidi Galenso Syarif turut memberikan masukan penting. Ia mengusulkan agar Dapur MBG Kampung Ilmu mulai memanfaatkan teknologi solar panel sebagai sumber energi alternatif. Usulan ini disambut baik oleh Pak Imam sebagai langkah ke depan untuk menjadikan dapur tidak hanya sehat dan higienis, tetapi juga efisien dan ramah lingkungan.
Kunjungan ini bukan sekadar seremonial.
Ia menjadi ruang pertemuan antara gagasan, pengalaman, dan harapan. Bahwa upaya meningkatkan gizi masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus dibangun bersama, lintas sektor, dan dimulai dari hal yang paling mendasar: keluarga.
Dari Kampung Ilmu, harapan itu terus tumbuh.