4x bet1 win casino1win aviatorparimatch1win aviator1win casinomostbet azmostbet india1win saytilucky jet online1 winpin up casinomostbet aviator login1win loginmosbet aviatoraviatorмостбетlucky jetpin up az4rabet bangladeshmostbet kzparimatchlucky jet casinomostbet casinopin up1win1win kzpin up bet1 win aviatorpinupmosbetmostbet casinopin-up1win lucky jetpin up casinopinup login1win apostamosbetmostbet casinoone win gamelucky jet xmosbet indiapinup kzpin up4r bet4rabetmostbet casino1win casinolucky jet crashmosbet casino1win lucky jet

Cegah Kekerasan, Dukung Sebaya, Atur Emosi: Tiga Aksi Pengmas Psikologi UI

Pada 25 September 2025, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kembali melanjutkan rangkaian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) di Kampung Ilmu. Kali ini, tiga laboratorium riset ambil bagian: Lab Intervensi Sosial dan Krisis, MindCoLab (Mindfulness and Contemplative Psychology), serta Kelompok Riset Teacher Student Effectiveness (TSE).

Berbagai kegiatan dilakukan dengan melibatkan guru, siswa, ibu, dan anak, menegaskan komitmen Psikologi UI untuk menjawab tantangan sosial dan psikologis masyarakat Purwakarta.

Mencegah Kekerasan Berbasis Gender – Lab Intervensi Sosial dan Krisis

Isu kekerasan berbasis gender (KBG) masih menjadi persoalan serius yang dialami remaja maupun orang dewasa. Untuk itu, Lab Intervensi Sosial dan Krisis Fakultas Psikologi UI mengadakan diskusi interaktif pencegahan KBG yang melibatkan 30 siswa SMK dan 15 guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD hingga SMK.

Diskusi ini dipandu oleh tim dosen dan peneliti, yaitu Mita Aswanti Tjakrawiralaksana, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Hastin Melur Maharti, S.Psi., M.Psi.T., Retnosari Hardaningsih, S.Psi., M.Si., Raudhah Mutiara, M.Si., dan Rahma Wati, S.Psi.

Materi yang dibawakan mencakup definisi dan bentuk-bentuk KBG, dampak psikologis yang ditimbulkan, serta strategi pencegahannya. Sesi untuk guru juga dilengkapi dengan pelatihan Psychological First Aid (PFA) atau Dukungan Psikologis Awal, yaitu keterampilan dasar untuk memberikan dukungan cepat, sederhana, dan tepat sasaran bagi individu yang mengalami krisis. PFA mengajarkan cara menenangkan, mendengarkan dengan empati, mengenali kebutuhan mendesak, dan menghubungkan korban dengan sumber bantuan yang lebih lanjut.

Sementara itu, siswa dilatih untuk memahami cara melindungi diri dan teman sebaya dari kekerasan. Kegiatan ditutup dengan sesi praktik, memastikan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menerapkan langkah konkret dalam pencegahan kekerasan berbasis gender maupun pemberian dukungan psikologis awal.

Advokasi Kesehatan Mental dengan Konseling Sebaya

Dengan meningkatnya kasus masalah kesehatan mental pada remaja di era digital ini, membutuhkan lebih banyak remaja yang dapat menjadi pendukung kesehatan mental untuk sebaya.

Kampung Ilmu bekerjasama dengan Laboratorium Mindfulness and Contemplative Psychology (MindColab), Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Konselor SebayaSobat Carita” untuk siswa SMK Negeri Tegalwaru.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk membentuk support group, untuk memudahkan remaja dalam saling berbagi pengalaman dan mengatasi tekanan psikologis. Harapannya, kegiatan ini dapat membantu mengurangi risiko remaja mengalami masalah kesehatan mental.

Sebanyak 20 siswa SMK mengikuti pelatihan konselor sebaya untuk bersama-sama mempelajari prinsip kesehatan mental, peran konselor sebaya, dan ketrampilan konseling, yang terdiri dari komunikasi interpersonal, observasi, mendengar aktif, dan memberikan respon positif.

Kegiatan pelatihan ini difasilitasi oleh Indira Primasari, M.Psi., Psikolog, dengan didampingi oleh Mutia Aulia Dewi, S.Si., M.Si, dan Haris Munandar, S.Psi. Disamping presentasi dan diskusi bersama, peserta pelatihan juga diajak untuk mendapatkan insight melalui permainan yang menyenangkan dan praktik konseling sebaya, dengan pendampingan oleh fasilitator.

Sebagai tindak lanjut, para peserta diminta untuk melakukan praktik konseling sebaya di lingkungan sekolah atau rumah masing-masing melalui kegiatan “Mayoran” yaitu berkumpul dengan berbagi makanan yang merupakan kearifan masyarakat Indonesia. Kegiatan ini dijadikan sebuah sarana dukungan sebaya dimana remaja yg sudah dilatih mengasah keterampilan mereka sebagai konselor dan agen perubahan dalam meningkatkan kesehatan mental sebaya.

Belajar Mengelola Emosi Sejak Dini – Kelompok Riset TSE

Kelompok Riset Teacher Student Effectiveness (TSE) di bawah bimbingan Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, dengan fasilitator Sulfani Nur Mawaddah, S.Psi. dan Vessy Milna, S.Psi., mengadakan Pelatihan Keterampilan Mengelola Emosi yang diikuti oleh 20 ibu dan 20 anak usia 4–6 tahun. Peserta berasal dari keluarga yang sama, sehingga apa yang dipelajari ibu dapat langsung dipraktikkan bersama anak di rumah.

Pelatihan ini terbagi menjadi tiga sesi untuk ibu dan anak, dengan tujuan membantu ibu lebih bijak mengendalikan perasaan saat mengasuh, sekaligus menumbuhkan kemampuan anak memahami dan mengelola emosinya sejak dini.

Sesi ibu: membahas apa itu emosi, jenis-jenis emosi, serta berbagai cara sederhana menghadapi situasi sehari-hari. Ibu juga belajar teknik praktis agar bisa mengajarkan anak mengenali dan mengelola emosinya dengan lebih sehat.
Sesi anak: penuh dengan cerita dan bermain peran. Anak-anak belajar mengenal emosi dasar, serta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat marah, sedih, atau takut. Lewat permainan yang seru, mereka diajak mempraktikkan cara sederhana menenangkan diri.

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Ibu-ibu aktif bertanya, tertawa saat bermain peran, dan merasa senang karena tidak hanya mendapatkan ilmu yang bermanfaat, tetapi juga merasa lebih rileks dari rutinitas rumah tangga. Anak-anak pun ikut bersemangat, terutama ketika diminta bercerita dan bermain bersama.

Yang membuat sesi ini terasa berbeda adalah bagaimana ibu-ibu sangat menikmati proses belajar. Melalui ice breaking yang seru dan bermain peran yang lucu, mereka tanpa sadar tidak hanya mendapat materi yang sangat berguna, tetapi juga merasakan semacam healing dari rutinitas rumah tangga. Suasana cair ini membuat ibu-ibu lebih terbuka, aktif bertanya, dan pulang dengan semangat baru untuk menerapkan ilmu yang didapat.

Rangkaian kegiatan Pengmas pada 25–26 September ini memperlihatkan bentuk kolaborasi Psikologi UI dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Dari pencegahan kekerasan berbasis gender, penguatan kesehatan mental remaja melalui konseling sebaya, hingga pelatihan mengelola emosi untuk ibu dan anak, seluruh kegiatan berkontribusi pada terbentuknya komunitas yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top