Pada 28 April 2026, Dapur MBG Kampung Ilmu Purwakarta menerima kunjungan penting dari Tim Penilaian SPPG Terpencil. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari proses memastikan bahwa layanan penyediaan makanan bergizi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) benar-benar memenuhi standar—baik dari sisi kualitas, keamanan, maupun keberlanjutan.
Tim penilai yang hadir terdiri dari Martha Indra Kusuma sebagai Penilai Pemerintah Ahli Pertama, didampingi oleh Binta Fikriya dan Andriawan sebagai pelaksana. Mereka melakukan penilaian menyeluruh untuk melihat sejauh mana Dapur MBG Kampung Ilmu mampu menjadi model layanan yang layak direplikasi.
Lebih dari Sekadar Dapur
Didampingi oleh Imam B. Prasodjo, tim penilai diajak melihat langsung bagaimana dapur ini dirancang dan dijalankan.
Untuk ukuran wilayah 3T, Dapur MBG Kampung Ilmu memiliki bangunan yang relatif luas dengan alur kerja yang tertata rapi. Peralatan dan perlengkapan yang digunakan pun telah memenuhi standar food grade, memastikan setiap proses produksi berjalan aman dan higienis.
Teknologi yang Membuat Perbedaan
Keunggulan dapur ini tidak berhenti pada fasilitas fisik. Kampung Ilmu mulai mengintegrasikan teknologi dalam operasionalnya.
Setiap wadah atau ompreng makanan dilengkapi sistem QR code untuk memudahkan pelacakan distribusi. Selain itu, penggunaan aplikasi berbasis AI (kecerdasan buatan) membantu pengelolaan sistem menjadi lebih akurat dan efisien.
Pada kesempatan ini, Ahmad Toriq dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia turut hadir menjelaskan inovasi mesin conveyor yang digunakan. Mesin ini mampu mengeringkan wadah atau ompreng menggunakan teknologi UV, sehingga memastikan setiap wadah benar-benar steril dan aman sebelum digunakan kembali.
Menjaga Kualitas dari Hulu ke Hilir
Kualitas makanan dijaga sejak awal hingga sampai ke penerima manfaat. Dapur MBG dilengkapi chiller dan cold storage untuk menjaga kesegaran bahan baku dan hasil produksi.
Aspek pendukung lain juga diperhatikan dengan serius, seperti ketersediaan air bersih, sistem IPAL (pengolahan air limbah), hingga mess bagi karyawan SPPG. Semua ini menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung.
Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Sianny Sadikin, S.E., yang memberikan pendampingan dari sisi gizi dan pengolahan makanan. Ia menjelaskan pentingnya teknik memasak yang benar agar nutrisi tetap terjaga, terutama untuk kelompok rentan seperti batita, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Ia juga menekankan bahwa standar tidak hanya berhenti di dapur. Waktu penyajian menjadi faktor penting—makanan harus sampai ke penerima manfaat dalam kondisi yang masih optimal, baik dari sisi rasa, tekstur, maupun kandungan gizinya.
Menuju Model yang Bisa Direplikasi
Tujuan utama dari penilaian ini adalah memastikan bahwa Dapur MBG Kampung Ilmu tidak hanya layak, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi model bagi wilayah lain, khususnya di daerah 3T.
Apa yang dilihat oleh tim penilai bukan hanya fasilitas, tetapi sebuah sistem yang bekerja: menggabungkan standar keamanan pangan, inovasi teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kampung Ilmu kembali menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat berjalan seiring dengan standar profesional. Bahkan, dari sini terlihat bahwa solusi yang kuat justru lahir ketika keduanya dipadukan.
Kunjungan ini menjadi langkah penting untuk terus meningkatkan kualitas dan memperluas dampak—agar setiap makanan yang dihasilkan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman, terkelola dengan baik, dan berkelanjutan.