Kampung Ilmu Purwakarta kembali menjadi ruang belajar hidup. Kali ini, rombongan pimpinan dan dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia hadir untuk melihat langsung bagaimana konsep ekonomi, pemberdayaan, dan keberlanjutan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Rombongan dipimpin oleh Dekan FEB UI, Yulianti, S.E., M.S.M., Ph.D., bersama jajaran pimpinan dan dosen, di antaranya Prof. Dr. Irwan Adi Ekaputra, Prof. Desi Adhariani, Rus’an Nasrudin, Isfandiarni, Lisa Listiana, Vita Silvira, Cut Saskia Rachman, Dr. Haryani Primanti, dan Farma Mangunsong. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan, tetapi bagian dari upaya melihat praktik nyata yang bisa menjadi refleksi bagi dunia akademik.
Dapur MBG: Gotong Royong yang Terwujud dalam Sistem
Kunjungan dimulai dari Dapur MBG Kampung Ilmu bersama Imam B. Prasodjo. Di tempat ini, rombongan tidak hanya melihat fasilitas dapur, tetapi memahami cerita di baliknya.
Dapur MBG dibangun dengan semangat gotong royong dan kolaborasi berbagai pihak. Setiap elemen memiliki cerita: ubin yang didukung oleh Arwana Ceramics, fasilitas sanitasi dari TOTO, hingga dukungan chiller dan cold storage dari Pak Afan untuk menjaga kualitas bahan baku.
Namun yang paling menarik perhatian adalah bagaimana dapur ini dirancang. Peralatan dipilih secara cermat untuk memastikan higienitas, keamanan pangan, sekaligus efisiensi dalam proses produksi. Bagi rombongan FEB UI, ini bukan hanya dapur, tetapi contoh nyata bagaimana standar kualitas bisa diterapkan dalam skala komunitas.
Dari Konsumsi ke Produksi: Kemandirian di Sentra Ayam Petelur
Perjalanan berlanjut ke sentra ayam petelur Kampung Ilmu. Di sini, rombongan diajak memahami pendekatan yang berbeda: bukan memberi bantuan, tetapi membangun kemandirian.
Warga tidak diberi telur, melainkan dipinjamkan ayam petelur. Dari sini, kebutuhan protein keluarga terpenuhi. Ketika produksi berlebih, telur dapat ditetaskan kembali, menciptakan siklus yang terus berkembang.
Konsep sederhana ini menghadirkan dampak yang besar. Kemandirian pangan tidak lagi menjadi wacana, tetapi sesuatu yang tumbuh dari rumah ke rumah.
Tobong: Solusi Lingkungan yang Relevan
Kunjungan dilanjutkan ke program Tobong—sebuah inovasi yang mengubah limbah menjadi solusi. Sampah dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan panas yang digunakan mengeringkan hasil panen warga.
Teknologi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis dan mudah diterapkan. Bagi para akademisi FEB UI, Tobong menjadi contoh bagaimana inovasi lokal bisa menjawab dua persoalan sekaligus: pengelolaan limbah dan efisiensi produksi.
Hangatnya Kebersamaan
Rangkaian kegiatan ditutup dengan makan siang bersama. Suasana hangat terasa, bukan hanya sebagai penutup acara, tetapi sebagai ruang bertukar kesan dan refleksi.
Setelah Kunjungan: Menyempurnakan Sistem dari Dapur hingga Gizi Keluarga
Usai rombongan FEB UI kembali, diskusi di Kampung Ilmu tidak berhenti. Imam B. Prasodjo melanjutkan pertemuan bersama calon tim Dapur MBG dengan menghadirkan Ibu Sianny Sadikin, S.E. dari Bandung.
Di Kampung Ilmu, Sianny tidak hanya berbagi teori, tetapi praktik langsung yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bagaimana cara menyiapkan makanan yang sehat sekaligus tetap enak untuk keluarga. Kuncinya ada pada teknik pengolahan yang benar.
Menurutnya, ketika makanan diolah dengan tepat, nutrisi akan tetap terjaga. Dan di situlah fondasi kesehatan keluarga dibangun—terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, batita, dan balita yang sangat membutuhkan asupan gizi optimal.
Ia juga menekankan bahwa setiap kelompok usia memiliki kebutuhan berbeda. Tekstur, cara memasak, hingga penyajian harus disesuaikan. Dari dapur sederhana, dampaknya bisa sangat besar: mencegah masalah gizi sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Tak hanya itu, Sianny juga merekomendasikan peralatan dan perlengkapan memasak yang memenuhi standar keamanan pangan, termasuk wadah makan yang aman untuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Dari Kampung Ilmu untuk Pembelajaran yang Lebih Luas
Kunjungan ini menunjukkan bahwa Kampung Ilmu bukan hanya tempat menjalankan program, tetapi juga ruang belajar lintas disiplin. Dari ekonomi, manajemen, hingga akuntansi, semua menemukan relevansinya dalam praktik nyata di lapangan.
Bagi FEB UI, kunjungan ini membuka perspektif bahwa konsep yang diajarkan di kelas dapat hidup dan berkembang ketika bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dan bagi Kampung Ilmu, setiap kunjungan seperti ini adalah penguat bahwa langkah-langkah kecil yang konsisten dapat membangun sistem yang berdampak besar.