Kampung Ilmu kembali menjadi tempat bertemunya gagasan besar dan aksi nyata. Pada hari yang penuh semangat, rombongan dari Rumah Amal Salman Bandung berkunjung langsung ke Kampung Ilmu. Kunjungan ini tidak hanya jadi ajang silaturahmi, tapi juga momentum penting yang menyatukan banyak pihak dalam satu rangkaian kegiatan kolaboratif.
Diskusi Strategis Lewat Pertemuan Virtual
Pertemuan virtual melalui Google Meeting yang diikuti oleh Imam Prasodjo (pendiri Kampung Ilmu), Veronica Tan (Wamen PPAI), Florencio Mario (tenaga ahli Badan Gizi Nasional), Nita, Mieke (yayasan) , Chef Aam, Titis (arsitek), dan para relawan Kampung Ilmu untuk membahas langkah cepat pembangunan Dapur MBG yang dirancang untuk memasak dan mendistribusikan makanan bergizi secara massal, memenuhi kebutuhan gizi siswa di sekolah-sekolah serta ibu hamil, ibu menyusi dan balita yang menjadi target program MBG di Kampung Ilmu.
Beberapa poin teknis yang dibahas meliputi:
- Petunjuk alur kerja (flow) agar proses dapur efisien, mulai dari pengolahan hingga distribusi.
- Pentingnya pemisahan jalur untuk unloading bahan baku dan loading hasil produksi, masing-masing dengan pintu akses berbeda untuk menjaga higienitas dan efisiensi.
- Rencana kantor manajemen, ruang konsultasi, dan ruang meeting yang terpisah dari dapur utama untuk memanfaatkan bangunan yang telah berdiri.
Menyusuri Sentra-Sentra Pemberdayaan
Sementara itu, tim dari Salman Bandung menyusuri langsung sentra-sentra kegiatan di Kampung Ilmu—dari areal SMKN Tegalwaru, Sentra Pembibitan termasuk hanggar produksi pakan ternak dan pelet ikan hingga Sentra Ikan Patin dan Sentra Kambing Perah.
Di hadapan relawan dan guru SMKN, Mipi Ananta Kusuma (Ketua Pengurus Rumah Amal Salman) dan Syachrial (Direktur Rumah Amal Salman) memaparkan berbagai program unggulan mereka seperti; menggagas program inovatif yang menggabungkan teknologi budidaya ikan nila dan aquaponik untuk menjawab tantangan kurangnya akses makanan bergizi di wilayah tersebut, pemberian dan pendampingan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan dari keluarga tidak mampu, termasuk penerapan arsitektur berbasis kearifan lokal dalam pembangunan masjid di berbagai wilayah.
Titik Temu: Pendidikan, Pemberdayaan, dan Peradaban
Diskusi ini memperjelas banyaknya kesamaan visi antara Rumah Amal Salman dan Kampung Ilmu, terutama di bidang pendidikan, pemberdayaan, serta penanganan stunting di Garut dan Purwakarta.
“Kami sangat terkesan. Ada pembangunan fisik yang masif, tapi yang lebih penting adalah pendampingan jangka panjang dari Pak Imam dan para local champions. Inilah yang menciptakan dampak nyata dan berkelanjutan,” ujar Mipi dan Syachrial.
Mimpi, Kepercayaan, dan Potensi Kolaborasi
Pembangunan masyarakat adalah proses jangka panjang yang hanya bisa berjalan di atas pondasi kepercayaan. Ketika masyarakat, mitra, dan donatur percaya, maka mimpi-mimpi besar bisa dijalankan bersama.
Potensi kolaborasi ke depan antara lain:
- Inovasi sosial berbasis teknologi melalui jejaring ITB.
- Ketahanan pangan dan budidaya perikanan sebagai solusi gizi dan pencegahan stunting.
- Penguatan pendidikan melalui pendampingan guru dan siswa menuju jenjang perguruan tinggi.
Menuju Dapur MBG: Dari Rencana ke Aksi
Usai diskusi, Imam Prasodjo langsung meninjau lokasi calon Dapur MBG di Kampung Ilmu. Di sana, relawan bersama Chef Aam dan Tim Arsitek berdiskusi langsung di lapangan—menentukan alur kegiatan dapur, penempatan ruang-ruang, hingga ukuran masing-masing bagian. Proses pengukuran dan pemasangan patok juga dilakukan sebagai langkah awal menuju pembangunan konkret.
