4x bet1 win casino1win aviatorparimatch1win aviator1win casinomostbet azmostbet india1win saytilucky jet online1 winpin up casinomostbet aviator login1win loginmosbet aviatoraviatorмостбетlucky jetpin up az4rabet bangladeshmostbet kzparimatchlucky jet casinomostbet casinopin up1win1win kzpin up bet1 win aviatorpinupmosbetmostbet casinopin-up1win lucky jetpin up casinopinup login1win apostamosbetmostbet casinoone win gamelucky jet xmosbet indiapinup kzpin up4r bet4rabetmostbet casino1win casinolucky jet crashmosbet casino1win lucky jet

Datuk Taufiq Ismail di Kampung Ilmu: Puisi, Dedikasi, dan Sebuah Janji

Di sebuah kampung kecil bernama Cisarua,
Datang seorang maestro yang melegenda,
Usianya 90, namun semangatnya menyala,
Seperti bait puisinya—hidup, tajam, tak pernah pudar warna.

Taufiq Ismail, penyair yang dijaga waktu,
menyempatkan diri menginap di Kampung Ilmu.
Tak hanya berkunjung, ia memberi panggung:
bagi siswa, guru, dan para pekerja yang ingin bersuara lantang.

Pagi itu, puisi bukan sekadar bunyi.
Ia menjadi tubuh dari cinta dan nurani.
Satu per satu, anak-anak bangsa berdiri,
membacakan karya Taufiq—dengan getar, dengan nyali.

Ada siswa yang membaca dengan suara bergetar penuh haru,
Ada guru yang mengalirkan kata demi kata dengan indah dan syahdu.
Ada pekerja yang membacakan dengan khidmat dan tenang,
Semua disambut senyuman hangat dari sang penyair yang lapang.

Setiap pembacaan, tak pernah dibiarkan lewat begitu saja,
Datuk menanggapi dengan sorot mata penuh cahaya.
Kadang haru, kadang bangga, kadang semangat menyala—
dan setiap kali, ia bercerita: tentang puisi, tentang sejarahnya.

Pak Nana, guru SMK yang senang bersastra,
tak membaca puisi dari buku, tapi dari dada.
Ia membuat sajak dadakan untuk sang legenda,
tentang Taufiq Ismail, sang pemantik cahaya.

Dan di sela acara, Imam Prasodjo bercerita,
tentang tembok sekolah yang hampir roboh dan terlupa.
“Di sana,” katanya, “ada puisi yang tergurat lama.”
Tanda bahwa sastra tumbuh, bahkan di sela retaknya dunia.

Dadanya gemuruh, suara penuh haru,
saat melihat antusias anak-anak membaca puisi dengan syahdu.
Ia tak ingin momen itu sekadar berlalu,
lalu nyatakan: “Hari ini, 5 Agustus, mari kita catat sebagai Hari Sastra di Kampung Ilmu!”

Dan dari sana, sebuah gerakan mulai digagas:
agar sekolah memiliki buku-buku puisi Taufiq Ismail yang telah diterjemahkan luas.
Ke dalam dua belas bahasa, menjangkau berbagai penjuru,
agar anak-anak belajar tak hanya membaca—tapi mencipta, dengan hati yang jujur dan penuh mutu.

Pagi itu bukan hanya pagi sastra.
Ia jadi pagi yang menyalakan jiwa.
Taufiq Ismail datang bukan hanya sebagai penyair,
tapi sebagai pengingat bahwa kata-kata bisa memulihkan,
bisa mendidik, bisa menyalakan api yang tak henti memberi terang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top