Selama empat hari, 9–12 Februari 2026, suasana Desa Cisarua dan Kampung Kiara Lawang di sekitar Danau Jatiluhur terasa berbeda. Ibu-ibu dan remaja berkumpul, memegang benang dan hakpen untuk pertama kalinya, belajar merajut bersama para pengrajin dari Dowa Bag dalam program Kampung Ilmu.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan. Ini adalah langkah awal membuka peluang penghasilan dari rumah.
Hari Pertama: Belajar dari Nol di Desa Cisarua
Pelatihan dimulai di Gedung Solusi Akademi, Desa Cisarua. Lima pengrajin Dowa yang sudah berpengalaman, Mursida, Sri Suharti, Dian, Eni, dan Sutinem, membimbing peserta dengan sabar dan telaten.
Semua peserta belum pernah merajut sebelumnya. Mereka belajar dasar-dasar:
- Cara memegang benang rajut dengan benar
- Cara menggunakan hakpen
- Teknik menjaga rajutan tetap rapih dan tidak kendur
- Mengikuti ukuran standar yang sudah ditetapkan Dowa
Target latihan adalah membuat tas kecil tempat menyimpan lipstik atau alat makeup. Dowa juga menyediakan paket benang dan peralatan merajut untuk semua peserta. Tidak ada yang perlu khawatir soal perlengkapan.
Ibu Nina, Direktur Dowa Bag, dan Ibu Nining selaku tuan rumah, bergantian memberi semangat. Mereka terus mengingatkan bahwa setiap proses butuh kesabaran. “Tidak masalah jika masih salah. Yang penting terus mencoba”.
Setelah sesi pagi di Cisarua, kelima pengrajin menempuh perjalanan sekitar 45 menit melalui jalan yang cukup rusak menuju Kampung Kiara Lawang, dekat Danau Jatiluhur.
Di sana, Ibu Nina memperkenalkan para pengrajin senior Dowa yang sudah belasan tahun bergabung. Mereka adalah contoh nyata bahwa merajut bisa menjadi sumber penghasilan yang konsisten. Dari hasil merajut, mereka berhasil membiayai pendidikan anak-anaknya.
Harapannya sederhana namun kuat: ibu-ibu di Kiara Lawang juga bisa memiliki kesempatan yang sama.
Hari Kedua: Belajar dari Kesalahan
Di hari kedua, hasil rajutan mulai dikurasi oleh pengrajin Dowa. Beberapa peserta harus membongkar ulang rajutannya karena terlalu kendur atau salah teknik.
Tidak mudah membongkar hasil kerja sendiri. Namun para peserta tetap bersemangat. Mereka mulai memahami bahwa kualitas adalah kunci. Rajutan harus rapih, ukurannya tepat, dan sesuai standar Dowa.
Di sinilah ketekunan benar-benar diuji.
Hari Ketiga: Belajar di Rumah Warga
Untuk mengganti suasana, kegiatan merajut dipindahkan ke rumah warga. Suasananya lebih santai, lebih akrab.
Menariknya, beberapa warga yang awalnya hanya melihat mulai tertarik ikut belajar. Mereka melihat tetangga dan temannya merajut, lalu ingin mencoba juga.
Pelatihan ini mulai menular secara alami. Dari satu rumah ke rumah lain.
Hari Keempat: Kunjungan dan Penutupan
Hari terakhir menjadi momen istimewa. Imam Prasodjo hadir bersama tamu dari Belanda, Profesor Henri de Groot, serta Ari Kuncoro, mantan Rektor Universitas Indonesia, untuk melihat langsung proses belajar merajut warga.
Mereka menyaksikan bagaimana ibu-ibu dan remaja yang empat hari sebelumnya belum pernah memegang hakpen, kini sudah mampu membuat tas lipstik dengan ukuran yang sesuai standar.
Dalam penutupan, Kampung Ilmu dan Dowa memberikan bingkisan apresiasi kepada peserta yang berhasil menyelesaikan tas lipstik dengan baik.
Ibu Nina kembali memberi motivasi. Bagi peserta yang hasilnya sudah sesuai standar, Dowa akan memberikan SPK (Surat Perintah Kerja). Artinya, mereka akan mendapat order dan memperoleh penghasilan dari hasil merajutnya.
Ini bukan sekadar pelatihan. Ini peluang nyata.
Langkah Awal Menuju Kemandirian
Empat hari memang singkat. Namun dampaknya bisa panjang.
Semangat yang tumbuh di Desa Cisarua dan Kampung Kiara Lawang menunjukkan bahwa keterampilan sederhana seperti merajut bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi keluarga.
Setelah Lebaran Idul Fitri nanti, pengrajin Dowa akan kembali untuk mengajarkan teknik rajut tingkat lanjut. Harapannya, semakin banyak warga yang tidak hanya bisa merajut, tetapi juga konsisten menghasilkan karya sesuai standar dan mendapatkan penghasilan tetap.
Kampung Ilmu percaya, ketika ilmu dibagikan dengan sabar dan kesempatan diberikan dengan nyata, perubahan bisa dimulai dari desa.
