Hari kedua kegiatan Kaji Tiru di Kampung Ilmu dimulai sejak pagi hari. Setelah sarapan, peserta berjalan kaki menuju Embung Tegalwaru. Embung ini tidak hanya berfungsi sebagai cadangan air untuk pengairan saat musim kemarau, tetapi juga dimanfaatkan sebagai tempat pembesaran ikan patin dan nila.
Ikan-ikan yang dipelihara di embung ini nantinya dipanen ketika ada tamu atau kegiatan bersama masyarakat sehingga dapat menjadi sumber lauk pangan yang tersedia langsung dari lingkungan sekitar. Konsep ini memberi gambaran kepada peserta bagaimana satu fasilitas dapat memiliki banyak fungsi sekaligus, mulai dari ketahanan air hingga ketahanan pangan.
Belajar Budidaya Ayam Petelur dari Hal-Hal Sederhana
Perjalanan dilanjutkan menuju Sentra Ayam Petelur. Di lokasi ini, peserta dari Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Barat mendapatkan banyak pengetahuan praktis tentang budidaya ayam yang selama ini jarang diketahui masyarakat umum.
Peserta mendapat penjelasan mulai dari pemilihan bibit unggul hingga perilaku dasar ayam yang berpengaruh terhadap produktivitas. Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah fakta bahwa ayam lebih menyukai warna merah. Karena itu, tempat minum (nippel), tempat makan, hingga tempat bertelur banyak menggunakan warna merah.
Peserta juga mendapat penjelasan bahwa satu pejantan dapat mengawini enam hingga sepuluh betina setiap harinya. Sementara sekali kawin, ayam betina dapat menghasilkan hingga enam embrio telur.
Selain itu, peserta belajar bahwa beragam tanaman di sekitar rumah sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan atau “cemilan” ayam, seperti daun kelor, daun katuk, dan daun singkong. Karena itu, masyarakat yang ingin memelihara ayam dianjurkan sekaligus menanam jagung dan tanaman hijauan pendukung pakan agar lebih mandiri dan hemat biaya.
Di tengah kunjungan, Pak Imam datang dan bertanya kepada peserta apakah mereka mendapatkan “AHA Effect” dari kunjungan tersebut. Pak Imam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan aha effect adalah ketika seseorang menemukan pengetahuan baru yang membuat takjub sekaligus membuka cara pandang baru.
Peserta mendapat aha effect mengenai pentingnya memilih telur yang bersih untuk dikonsumsi. Bila terdapat kotoran ayam yang menempel pada kulit telur, bakteri seperti Salmonella dikhawatirkan dapat masuk melalui pori-pori telur dan mencemari isi telur. Pengetahuan sederhana namun penting ini menjadi wawasan baru bagi peserta tentang keamanan pangan dari tingkat paling dasar.
Beberapa contoh sederhana yang dibagikan antara lain ayam yang menyukai warna merah, warna kuning yang ternyata tidak disukai lalat, hingga pemanfaatan soang atau angsa sebagai “penjaga kandang” alami. Soang mampu membuat predator ayam seperti musang, ular, dan biawak merasa takut sehingga membantu menjaga keamanan kandang.
Pemberdayaan Warga Melalui Rumah Pembibitan
Kunjungan kemudian berlanjut ke Rumah Pembibitan. Di lokasi ini, peserta melihat langsung ibu-ibu warga sedang bekerja bakti memasukkan media tanam ke dalam planter bag yang nantinya dibawa ke rumah masing-masing.
Peserta mendapat penjelasan bahwa warga menerima “pinjaman” planter bag berisi tanaman, kandang ayam, dan ayam petelur sebagai bagian dari program pemberdayaan keluarga. Program tersebut membantu masyarakat mengurangi biaya dapur harian karena sebagian kebutuhan pangan dapat dipenuhi sendiri dari rumah.
Model pemberdayaan ini membuat peserta melihat bahwa ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari skala besar, tetapi bisa dimulai dari halaman rumah dan dikelola bersama masyarakat.
Belajar Pentingnya Kemandirian Pakan
Dari Rumah Pembibitan, rombongan melanjutkan kunjungan ke hanggar produksi pakan. Di tempat ini peserta mendapat pemahaman bahwa budidaya ternak, unggas, maupun ikan harus dibangun di atas kemandirian pakan.
Peserta mendapat penjelasan bahwa peternak sebaiknya tidak sepenuhnya bergantung pada pakan pabrikan, mencari rumput setiap hari, ataupun mengumbar ternak yang berisiko terkena penyakit seperti cacing dan penyakit lainnya.
Konsep produksi pakan mandiri menjadi salah satu pondasi penting agar peternakan rakyat dapat berjalan lebih efisien, sehat, dan berkelanjutan.
Menggunakan mobil bak terbuka, peserta kemudian ikut mengantar kandang ayam ke rumah warga yang sebelumnya sudah terdata sebagai penerima program pemberdayaan. Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga melihat langsung kebun gizi keluarga milik Bu Yayan.
Selain memelihara ayam petelur dan menanam berbagai tanaman di planter bag, Bu Yayan juga memanfaatkan halaman rumah dengan membuat raised bed sebagai media tanam sayuran keluarga. Kebun sederhana tersebut menjadi contoh bagaimana program pemberdayaan Kampung Ilmu mendorong masyarakat memanfaatkan lahan rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan harian secara mandiri.
Mengenal Sentra Kambing Perah
Agenda berikutnya adalah mengunjungi Sentra Kambing Perah. Di sini peserta mendapat penjelasan mengapa Kampung Ilmu memilih pengembangan kambing perah dibanding hanya kambing pedaging.
Tujuannya adalah agar peternak memiliki hasil harian berupa susu kambing yang bisa langsung dimanfaatkan maupun dijual. Karena itu Kampung Ilmu memilih jenis kambing Saanen, PE, dan Sapera, yaitu hasil persilangan antara Saanen dan PE.
Di sentra ini juga terdapat pejantan Alpen bertanduk panjang melengkung yang dikenal sebagai “pejantan tangguh” karena digunakan untuk mengawini seluruh kambing betina yang ada di sentra tersebut.
Mengenal Budidaya Ikan Nila Kekar di Sentra Ikan Air Tawar
Setelah mengunjungi Sentra Kambing Perah, rombongan melanjutkan kunjungan ke Sentra Ikan Air Tawar Kampung Ilmu. Di lokasi ini, peserta melihat budidaya ikan nila kekar yang saat ini tengah dikembangkan.
Peserta mendapat penjelasan bahwa ikan nila kekar memiliki beberapa keunggulan dibanding nila biasa, di antaranya pertumbuhan lebih cepat, ukuran tubuh lebih besar dan padat, serta memiliki daya tahan yang baik dalam proses budidaya. Selain itu, nila kekar juga dinilai lebih efisien dalam pemanfaatan pakan sehingga cocok dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan dan usaha perikanan masyarakat.
Diskusi Kolaborasi dan Taman Bermain Ramah Anak
Sepulang dari Sentra Kambing Perah, peserta melanjutkan kegiatan diskusi di ruang kolaborasi Kampung Ilmu. Pada kesempatan tersebut hadir pula Pak Reno yang memiliki latar belakang arsitektur, perencanaan kawasan, sekaligus expertise dalam mendesain taman bermain ramah anak.
Pak Rino Wicaksono menyampaikan kesediaannya membantu merancang taman bermain ramah anak di Kampung Ilmu. Dalam diskusi tersebut, ia menjelaskan bahwa taman bermain merupakan hak semua anak sehingga konsep ruang bermain harus bersifat inklusif, aman, dan dapat diakses semua kalangan.
Hari kedua Kaji Tiru berlangsung padat sejak pagi hingga malam. Seluruh peserta kemudian kembali ke asrama untuk beristirahat setelah mendapatkan banyak pengalaman, wawasan, dan pengetahuan baru tentang bagaimana membangun kemandirian pangan, peternakan, serta pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.