Kampung Ilmu terus berinovasi dengan memanfaatkan embung Tegalwaru sebagai sentra usaha budidaya ikan patin. Awal sekali, embung ini difungsikan sebagai tempat penampungan air hujan agar tanaman tetap bisa disiram saat musim kemarau. Kini, embung tersebut juga difungsikan sebagai tempat pembesaran ikan patin.
Pada hari Sabtu, seorang petani ikan dari Cibening Purwakarta datang untuk membeli 10.000 ikan patin ukuran “dolos” dari Kampung Ilmu senilai Rp. 4.500.000,-. Bibit tersebut siap dibesarkan di tambak ikan bekas galian pasir miliknya. Tidak hanya itu, Kampung Ilmu juga menerima dua petani ikan lainnya pada hari Minggu. Pak Agus dari Bandung membawa pulang 15.000 ekor ikan patin ukuran RT dengan sepeda motornya, sedangkan Pak Eri membeli 10.000 ekor ikan patin ukuran yang juga sudah siap dibesarkan.
“Kami ingin memenuhi kebutuhan petani ikan patin dari berbagai daerah. Harapannya, semakin banyak petani yang berhasil membesarkan ikan patin, maka budaya gemar makan ikan juga akan semakin berkembang,” ujar Bu Nining, Manajer Program Kampung Ilmu Purwakarta.
Budidaya ikan patin tidak hanya menjadi potensi ekonomi bagi para petani ikan, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan lokal. Ikan patin kaya akan protein dan nutrisi penting yang baik untuk kesehatan. Dengan semakin berkembangnya usaha budidaya ikan patin di Kampung Ilmu, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengonsumsi ikan sebagai sumber protein yang terjangkau dan bernutrisi tinggi.
Kampung Ilmu terus berkomitmen untuk mendukung para petani ikan melalui penyediaan bibit ikan patin berkualitas dan pendampingan teknis dalam proses pembesaran ikan. “Kami optimis, budidaya ikan patin di Kampung Ilmu akan menjadi salah satu sentra unggulan yang bisa mendorong perekonomian lokal dan meningkatkan kualitas pangan masyarakat,” tambah Bu Nining penuh semangat.
