Hari Jumat, 13 Juni 2025, menjadi momentum penting bagi Kampung Ilmu. Untuk pertama kalinya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) akan ambil bagian dalam kegiatan Pengmas ke-IV yang diinisiasi oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) di Kampung Ilmu. Sebuah langkah kolaboratif yang menjanjikan sinergi antara ilmu kesehatan dan ilmu ekonomi demi kesejahteraan masyarakat.
Pembuka Diskusi: Menyatukan Visi
Diskusi awal melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh berbagai pihak lintas institusi yang peduli terhadap penguatan masyarakat akar rumput. Dipandu oleh drg. Benso, diskusi dibuka dengan penjelasan mengenai latar belakang kegiatan Pengmas FKG UI yang kini memasuki tahun keempat. Beliau menekankan bahwa setiap tahun kegiatan ini semakin luas partisipasinya, dan keterlibatan FEB UI tahun ini merupakan penguatan penting dari sisi pembangunan sosial-ekonomi. FEB UI pun diberi ruang untuk merancang program-program lanjutan yang berbasis masalah nyata di lapangan.
Hadir dalam diskusi ini perwakilan dari FEB UI: Reffelly Dewi, Rerien Riyanti, Viverita, dan Ratih Dyah. Dari SMKN Tegalwaru hadir Erlan, Asep Sa’ban, Nadya, dan Ridwan. Dari pihak Kampung Ilmu, ada Imam Prasodjo, Mutia (Nining), Tomy, dan Dwi Ari.
Perluasan Dampak: FEB UI Ambil Bagian
Tahun ini, kehadiran FEB UI menandai perluasan fokus program. Jika sebelumnya Pengmas berpusat pada kesehatan gigi dan PHBS, kini ditambahkan dimensi penting: penguatan ekonomi keluarga dan kewirausahaan generasi muda.
FEB UI akan menjalankan dua program utama:
- Pelatihan Pengelolaan Keuangan untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Bertempat di Balai Desa Kampung Ilmu, pelatihan ini menyasar sekitar 100 peserta—30 ibu hamil dan 70 ibu menyusui. Selain menerima penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan medis dari tim FKG UI, para ibu akan mendapatkan pelatihan singkat selama 1 jam terkait pengelolaan keuangan rumah tangga.
Dalam sesi diskusi, Imam Prasodjo menekankan urgensi pemetaan komposisi belanja rumah tangga. “Jangan sampai anggaran gizi keluarga dikalahkan oleh rokok dan pulsa,” ujarnya. Program ini diharapkan bisa membuka wawasan keluarga dalam menyusun prioritas keuangan yang lebih sehat dan produktif.
- Workshop Kewirausahaan untuk Siswa SMKN Tegalwaru
Sebanyak 54 siswa kelas 11 SMKN Tegalwaru akan mengikuti workshop intensif berdurasi 2 jam yang diselenggarakan oleh tim FEB UI. Untuk memaksimalkan interaksi dan pemahaman, para siswa akan dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Metode ini dirancang agar penyampaian materi lebih efektif dan diskusi lebih mendalam.
Imam Prasodjo memberi catatan penting agar workshop ini tidak hanya berfokus pada kewirausahaan berbasis profit, tetapi juga mengenalkan konsep kewirausahaan sosial.
“Anak-anak muda perlu tahu, bahwa membangun usaha bukan cuma soal untung, tapi juga bisa menjadi solusi sosial,” ujarnya.
Materi workshop akan mencakup:
- Dasar-dasar kewirausahaan bisnis dan sosial
- Identifikasi peluang usaha di lingkungan sekitar
- Strategi pengembangan produk yang kreatif dan relevan
- Teknik pengemasan dan pemasaran yang menarik
- Tips menjaga keberlanjutan usaha dari awal hingga ekspansi
Imam juga menekankan pentingnya pendampingan dan evaluasi jangka panjang agar usaha yang dirintis dapat tumbuh dan menghasilkan dampak yang nyata—secara ekonomi dan sosial.
Jalan Menuju Masa Depan
Tak hanya soal program, Imam juga menyinggung tantangan infrastruktur. Jalan menuju Kampung Ilmu masih jadi hambatan. Namun, ia memastikan bahwa koordinasi dengan Wakil Menteri PU dan Sekda Jawa Barat sudah dilakukan agar perbaikan bisa segera terealisasi dan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan edukatif seperti ini, dapat berjalan aman dan lancar.
Menuju Aksi Bersama
Diskusi ini bukan sekadar wacana. FEB UI diundang untuk menindaklanjuti keterlibatannya dengan program-program yang selaras dengan kebutuhan nyata di Kampung Ilmu. “Silakan eksplorasi dan kembangkan pendekatan yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat.” ujar drg. Benso menutup diskusi.
Sinergi antara FEB UI, FKG UI, SMKN Tegalwaru, dan Kampung Ilmu adalah contoh konkret bahwa perubahan dimulai dari kolaborasi. Dengan ilmu, empati, dan aksi nyata, masa depan yang lebih sehat dan mandiri bukanlah angan-angan—melainkan langkah bersama yang sudah dimulai.
