Pada 24–26 April 2026, lima mahasiswa magister Sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menjalani pengalaman yang tidak bisa mereka dapatkan hanya dari ruang kelas. Ardian, Gio, Maritsa, Dyah Ayu, dan Irma Sofiyani mengikuti kunjungan lapangan Mata Kuliah Pengembangan Komunitas Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Departemen Sosiologi, didampingi oleh Dr. Ida Ruwaida, M.Si.
Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi bagian dari Ujian Akhir Semester. Tujuannya jelas: membawa mahasiswa keluar dari teori menuju realitas, agar mereka bisa mengamati langsung, memahami secara mendalam, dan merefleksikan praktik pemberdayaan komunitas yang berorientasi pada keberlanjutan.
Hari Pertama: Memahami Fondasi, Menantang Cara Berpikir
Perjalanan dimulai secara daring melalui sesi Zoom bersama Imam B. Prasodjo, pendiri Kampung Ilmu. Ia tidak hanya bercerita tentang program, tetapi mengajak mahasiswa memahami cara berpikir di baliknya.
Ia menjelaskan bahwa Kampung Ilmu dibangun dengan dua inti utama: pendidikan dan pemberdayaan. Namun, keduanya tidak akan berjalan tanpa komunitas yang partisipatif dan responsif.
Lebih jauh, beliau memperkenalkan konsep Human Ecological Happiness.
Intinya, dalam mendorong perubahan dan pembangunan komunitas, ada tiga hal yang harus berjalan bersama.
Pertama, membangun individu yang bisa dipercaya—punya integritas, kapasitas, dan arah yang jelas. Upaya meningkatkan subjective wellbeing menjadi fondasi penting, karena perubahan selalu dimulai dari kualitas individu.
Kedua, kekuatan individu saja tidak cukup. Perlu dibangun modal sosial (social capital). Warga tidak hanya berkumpul, tetapi terorganisir dalam kelompok dengan visi dan misi yang jelas. Dari sinilah social wellbeing tumbuh dan menjadi kekuatan kolektif.
Ketiga, semua itu tidak akan bertahan tanpa lingkungan alam yang sehat. Kesejahteraan manusia harus berjalan seiring dengan kesejahteraan lingkungan. Ecological wellbeing bukan pelengkap, tetapi bagian yang menyatu.
Ketika ketiga unsur ini—individu, sosial, dan lingkungan—berjalan seimbang, maka akan tercipta Human Ecological Happiness.
Beliau juga mengaitkan pendekatan ini dengan prinsip small is beautiful, bahwa perubahan besar dimulai dari unit terkecil: keluarga. Serta konsep one village multi product, yang membuka peluang bagi satu wilayah untuk mengembangkan berbagai potensi, bukan terpaku pada satu komoditas saja.
Diskusi berlangsung hidup. Pertanyaan-pertanyaan kritis muncul, menandakan bahwa mahasiswa mulai menghubungkan teori yang mereka pelajari dengan realitas yang akan mereka temui.
Malam harinya, diskusi berlanjut secara intensif bersama relawan Kampung Ilmu. Di sinilah mahasiswa melihat bagaimana visi dan misi diterjemahkan menjadi program nyata yang dijalankan bersama masyarakat.
Hari Kedua: Masuk ke Jantung Kehidupan Komunitas
Hari kedua dimulai dengan suasana yang hangat dan membumi. Senam pagi dipandu oleh siswa-siswi sekolah dasar setempat, menciptakan interaksi yang sederhana namun bermakna.
Setelah sarapan, perjalanan dimulai.
Rombongan mengunjungi sentra ayam petelur (kandang transisi). Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang budidaya unggas, tetapi juga tentang pendekatan pemberdayaan. Kampung Ilmu tidak sekadar memberi bantuan, melainkan meminjamkan ayam petelur beserta kandang yang dirancang ramah ternak, lengkap dengan pelatihan pembuatan pakan dan perawatan. Tujuannya jelas: kemandirian.
Perjalanan berlanjut ke sekolah dasar—titik awal berdirinya Kampung Ilmu. Dari bangunan yang hampir roboh, lahir gerakan gotong royong yang kemudian berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan seperti sekarang.
Langkah berikutnya membawa mereka ke Dapur MBG. Di sini, mahasiswa melihat bagaimana isu gizi, ekonomi, dan pemberdayaan bertemu dalam satu sistem. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi bagian dari rantai produksi. Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi, hasil panen sayur dan telur dapat dijual ke koperasi warga yang bekerja sama dengan dapur.
Pengalaman menjadi semakin nyata ketika mahasiswa diajak mengunjungi rumah warga. Mereka melihat langsung pekarangan yang hidup—tanaman sayur tumbuh berdampingan dengan kandang ayam petelur. Sebuah gambaran sederhana tentang kedaulatan pangan di tingkat rumah tangga.
Kunjungan dilanjutkan ke Kebun Ilmu, tempat budidaya ikan air tawar dan pembibitan mulai dirintis, serta ke sentra kambing perah. Di sana dijelaskan alasan pemilihan kambing perah sebagai komoditas: adaptif, bernilai ekonomi, dan relevan dengan kebutuhan lokal.
Hari Ketiga: Dari Pengamatan ke Gagasan
Pada hari terakhir, mahasiswa tidak lagi hanya menjadi pengamat. Mereka mulai menyusun dan menyampaikan hasil pemikiran mereka.
Dengan payung besar Membangun Kedaulatan Pangan di Tingkat Lokal, masing-masing mempresentasikan analisis mereka melalui infografis yang terstruktur dan menarik.
Mereka mengangkat berbagai aspek, mulai dari modal sosial dan kelembagaan, hingga temuan lapangan, potensi, dan peluang pengembangan.
Salah satu fokus utama adalah bagaimana pemberdayaan masyarakat melalui peternakan ayam dan budidaya sayur organik dapat meningkatkan gizi, memperkuat ekonomi keluarga, dan mendorong kedaulatan pangan.
Pendekatan mereka tidak berhenti pada ide. Mereka memetakan secara sistematis:
input, aktivitas, output, outcome, hingga impact.
Di titik ini, terlihat jelas bahwa pengalaman lapangan telah mengubah cara mereka berpikir. Teori tidak lagi berdiri sendiri, tetapi diuji, disesuaikan, dan diperkaya oleh realitas.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Kunjungan ini meninggalkan jejak yang dalam. Bagi mahasiswa, Kampung Ilmu bukan hanya lokasi studi, tetapi ruang belajar hidup—tempat di mana konsep keberlanjutan benar-benar dijalankan, bukan sekadar dibahas.
Bagi Kampung Ilmu, kehadiran mahasiswa menjadi pengingat bahwa praktik baik di tingkat lokal memiliki nilai pembelajaran yang luas. Apa yang tumbuh dari gotong royong, partisipasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, ternyata mampu menjawab tantangan yang lebih besar.
Dari Purwakarta, sebuah pesan sederhana menjadi nyata: perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia tumbuh dari komunitas, dari keluarga, dan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.