Pada 23 April 2026, Kampung Ilmu Purwakarta menerima kunjungan istimewa dari 15 mahasiswa Executive MBA (EMBA) Vrije Universiteit (VU) Amsterdam yang tengah mengikuti short course di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dengan topik Leading with Purpose. Mereka didampingi oleh 2 orang dosen dari VU Amsterdam. Kunjungan ini bukan sekadar agenda akademik, tetapi bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan berbasis pengalaman nyata di lapangan.
Sebelum tiba di Kampung Ilmu, para peserta EMBA mendapatkan pembekalan dari sosiolog Imam B. Prasodjo, Ph.D. Beliau menekankan bahwa teori yang kuat dibangun dari data, data lahir dari pengalaman empiris, dan pengalaman paling bermakna adalah yang bersumber dari keterlibatan langsung. Pesan ini menjadi landasan penting dalam memahami praktik sosial yang mereka temui.
Dari Titik Awal: Pendidikan dan Gotong Royong
Setibanya di Kampung Ilmu, rombongan terlebih dahulu mengunjungi SDN 2 Cisarua dan SMPN 3 Tegalwaru. Di sinilah Kampung Ilmu Purwakarta bermula.
Perjalanan ini berawal dari kerjabakti masyarakat untuk memperbaiki bangunan sekolah yang rusak. Dari upaya sederhana tersebut, lahir gerakan bersama yang kemudian berkembang menjadi pembangunan gedung sekolah yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga dirancang dengan indah dan layak bagi proses belajar. Perjalanan ini mencapai tonggak penting ketika gedung tersebut diresmikan oleh tiga menteri pada masanya—menjadi simbol bahwa perubahan besar bisa dimulai dari inisiatif kecil berbasis gotong royong.
Dari Teori ke Praktik Nyata
Dari sekolah, rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Dapur MBG Kampung Ilmu. Mereka tidak hanya melihat sebuah dapur, tetapi sebuah sistem yang bekerja. Dapur MBG bukan sekadar tempat memasak. Di sini, penyediaan makanan bergizi berjalan seiring dengan upaya menggerakkan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Pendekatannya terasa dekat dengan kebutuhan warga. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan nyata, terutama dalam memastikan kecukupan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Fokus ini menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka stunting—bukan hanya melalui bantuan, tetapi melalui keterlibatan aktif masyarakat itu sendiri.
Yang membuatnya berbeda, setiap proses di dapur ini melibatkan warga. Ada rasa memiliki, ada tanggung jawab bersama. Bagi para peserta EMBA, ini bukan hanya solusi teknis, tetapi contoh bagaimana sebuah inisiatif lokal bisa menyentuh aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi sekaligus.
Diskusi berlangsung aktif. Krista Kruft dan Astrid Garretsen menggali lebih dalam bagaimana Kampung Ilmu menghadirkan isu gender secara nyata. Mereka melihat bahwa pendekatan yang dilakukan bukan sekadar konsep, tetapi benar-benar memberi ruang keadilan bagi ibu-ibu untuk mendapatkan hak dasar, khususnya dalam pemenuhan gizi.
Keberlanjutan yang Dijalankan
Kunjungan berlanjut ke sentra ayam petelur. Di sini, konsep keberlanjutan diterapkan secara sederhana namun berdampak: bukan memberikan telur secara langsung, melainkan meminjamkan ayam petelur kepada rumah tangga. Pendekatan ini mendorong kemandirian sekaligus memastikan keberlanjutan pemenuhan protein hewani.
Rombongan EMBA kemudian mengunjungi program Tobong, sebuah inovasi teknologi yang memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar untuk mengeringkan hasil panen. Teknologi ini ramah lingkungan, hemat biaya, dan mudah direplikasi. Ahmad Juang menjelaskan keunggulan sistem ini, yang menarik perhatian Rajeev Gade yang memiliki latar belakang engineering (Magister Sains Teknologi). Baginya, ini adalah contoh nyata inovasi tepat guna yang relevan secara global.
Interaksi yang Membekas
Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama, lalu interaksi langsung dengan berbagai komunitas perempuan di Kampung Ilmu. Ada komunitas berkebun, ternak ayam, rajut, hingga pilah sampah. Setiap kelompok menunjukkan hasil nyata dari aktivitas mereka—mulai dari hasil kebun, produksi telur, buku tabungan dari pengelolaan sampah, hingga karya rajutan.
Momen ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi para peserta EMBA. Krista dan rekan-rekannya tampak terkesan dengan pendekatan berbasis komunitas yang mereka lihat secara langsung. Di sisi lain, warga menyambut dengan penuh antusias, bahkan berulang kali mengajak berfoto sebagai bentuk kebanggaan dan kebahagiaan atas kunjungan tersebut.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Kunjungan ini menegaskan bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu terjadi di ruang kelas. Bagi para peserta EMBA, Kampung Ilmu menjadi ruang belajar hidup — tempat di mana teori diuji, nilai kepemimpinan dipertajam, dan dampak sosial dapat dilihat secara nyata.
Kampung Ilmu sendiri kembali menunjukkan bahwa inisiatif lokal yang dikelola dengan pendekatan partisipatif mampu menjawab tantangan global — mulai dari isu gizi, pemberdayaan perempuan, hingga keberlanjutan lingkungan.