Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the boostify domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/n1575437/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Rumah Sahabat Ibu dan Anak di Kampung Ilmu – Kampung Ilmu
4x bet1 win casino1win aviatorparimatch1win aviator1win casinomostbet azmostbet india1win saytilucky jet online1 winpin up casinomostbet aviator login1win loginmosbet aviatoraviatorмостбетlucky jetpin up az4rabet bangladeshmostbet kzparimatchlucky jet casinomostbet casinopin up1win1win kzpin up bet1 win aviatorpinupmosbetmostbet casinopin-up1win lucky jetpin up casinopinup login1win apostamosbetmostbet casinoone win gamelucky jet xmosbet indiapinup kzpin up4r bet4rabetmostbet casino1win casinolucky jet crashmosbet casino1win lucky jet

Rumah Sahabat Ibu dan Anak di Kampung Ilmu

Sabtu, 4 Juli 2026 menjadi momen penuh inspirasi ketika Kampung Ilmu menerima kunjungan istimewa dari Yayasan RUSAIDA (Rumah Sahabat Ibu dan Anak) dan Women Crisis Centre (WCC) yang berbasis di Sukabumi. Kunjungan ini bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi menjadi ruang belajar bersama tentang bagaimana masyarakat dapat tumbuh mandiri melalui semangat gotong royong, kepedulian, dan pemberdayaan.

Rombongan dipimpin langsung oleh Ir. Yuyu Marliah selaku Pembina Yayasan, didampingi Hosam Hamza Almashadi (Ketua Yayasan), Yayah Masripah, M.Pd. (Sekretaris Yayasan), M. Abdul Rafi (Bendahara Yayasan), M. H. Nadzier Fardany, S.E.I. (Manajer Kantor Yayasan), Bayu K. Hendarto (Divisi Pemberdayaan Masyarakat), Amiruddin, S.Pd. (Divisi Pengembangan Usaha), dan Fauziah, A.Md. (Pengurus Koperasi).

Yayasan RUSAIDA sendiri memiliki sejarah yang sangat menginspirasi. Rumah Sahabat Ibu dan Anak ini diresmikan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2018 sebagai Rumah Sahabat Ibu dan Anak pertama di Indonesia. Bersama Women Crisis Centre (WCC), yayasan ini menjadi tempat perlindungan sekaligus pemberdayaan bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan.

Dari Pengalaman Kelam Menjadi Cahaya Harapan

Pertemuan diawali di Ruang Kolaborasi Kampung Ilmu, tempat para perwakilan komunitas rajut, berkebun, peternakan, serta relawan Kampung Ilmu telah berkumpul.

Ibu Nining selaku Manajer Kampung Ilmu memperkenalkan para relawan dan warga yang hadir. Selanjutnya, Ibu Yuyu Marliah memperkenalkan seluruh anggota rombongan sekaligus berbagi kisah yang menyentuh hati.

Beliau menceritakan bahwa dirinya bersama sang anak merupakan penyintas kekerasan dalam rumah tangga. Pengalaman pahit tersebut tidak membuatnya menyerah, tetapi justru menjadi titik balik untuk menghadirkan harapan bagi perempuan dan anak-anak lain yang mengalami kondisi serupa.

Berangkat dari pengalaman itu, lahirlah Yayasan RUSAIDA dan Women Crisis Centre (WCC), sebuah rumah aman yang tidak hanya memberikan perlindungan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, keterampilan, dan kemandirian ekonomi bagi para penyintas agar mampu bangkit dan berdikari.

Meski sama-sama bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, Ibu Yuyu menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus belajar dari berbagai praktik baik yang telah berkembang di Kampung Ilmu.

Menyusuri Ekosistem Pemberdayaan Kampung Ilmu

Dengan menggunakan mobil bak terbuka, rombongan diajak berkeliling melihat langsung berbagai unit kegiatan yang menjadi denyut kehidupan Kampung Ilmu.

Perjalanan dimulai dari Dapur SPPG Kampung Ilmu, yang menjadi salah satu pusat pengolahan pangan bergizi bagi masyarakat.

Selanjutnya rombongan mengunjungi Sentra Kambing Perah, yang menjadi percontohan budidaya kambing untuk meningkatkan kesejahteraan peternak melalui produksi susu setiap hari serta penerapan teknologi pakan ternak mandiri yang menekan biaya dan mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.

Kunjungan lapangan ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar diwujudkan menjadi aktivitas ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Belajar Langsung dari Pengalaman Pak Imam Prasodjo

Usai makan siang, rombongan berdiskusi bersama Imam B. Prasodjo, penggagas Kampung Ilmu.

Dalam suasana santai namun penuh inspirasi, beliau menceritakan perjalanan awal berdirinya Kampung Ilmu di Purwakarta.

Semuanya bermula dari kepedulian terhadap sebuah sekolah dasar yang hampir roboh. Melalui Yayasan Nurani Dunia, yang selama ini banyak membangun sekolah di daerah konflik sosial maupun bencana alam, beliau menemukan kenyataan bahwa sekolah yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta pun masih banyak yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Dari sanalah semangat gotong royong dibangun bersama masyarakat.

Menurut Pak Imam, keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak bisa dibangun hanya melalui bantuan atau program sesaat. Yang jauh lebih penting adalah membangun masyarakat yang partisipatif, responsif, dan memiliki rasa memiliki terhadap setiap program yang dijalankan.

“Ketika masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan, maka kemandirian akan tumbuh dengan sendirinya.”

Pesan tersebut menjadi salah satu pembelajaran berharga bagi seluruh peserta yang hadir.

Menumbuhkan Kemandirian Melalui Berbagai Unit Usaha

Kunjungan kemudian dilanjutkan menuju berbagai sentra usaha yang dikelola Kampung Ilmu.

Rombongan melihat langsung Sentra Ayam Petelur yang menjadi pusat pembelajaran budidaya ayam petelur bagi masyarakat. Di sentra ini, mereka mempelajari pentingnya memilih bibit ayam yang berkualitas sebagai kunci keberhasilan beternak, didukung dengan kemandirian dalam memproduksi pakan untuk menekan biaya produksi.

Mereka juga mengunjungi Sentra Produksi Pakan, sebuah inovasi penting yang dikembangkan Kampung Ilmu. Mengingat sebagian besar biaya budidaya berasal dari kebutuhan pakan, Kampung Ilmu memilih membangun kemandirian dengan memproduksi pakan sendiri sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada pakan pabrikan.

Selain itu, rombongan diperkenalkan pada program Tobong Ramah Lingkungan, teknologi sederhana namun inovatif yang memanfaatkan limbah sampah sebagai bahan bakar pemanas.

Teknologi ini digunakan untuk membantu proses pengeringan hasil panen sehingga lebih hemat energi sekaligus ramah lingkungan.

Tidak kalah menarik, rombongan juga melihat perkembangan pembangunan Cold Storage dan Mini Processing yang nantinya akan menjadi pusat penyimpanan sekaligus pengolahan ikan dan daging. Fasilitas ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru, memperpanjang umur simpan hasil produksi masyarakat, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Menguatkan Jejaring, Menghadirkan Harapan

Kunjungan Yayasan RUSAIDA dan Women Crisis Centre menjadi bukti bahwa semangat pemberdayaan tidak mengenal batas wilayah. Pertemuan ini mempertemukan dua lembaga yang memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun masyarakat yang lebih mandiri, berdaya, dan saling menguatkan.

Bagi Kampung Ilmu, kunjungan ini menjadi momentum untuk saling bertukar pengalaman, memperluas jejaring kolaborasi, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian terhadap sesama.

Semoga silaturahmi ini menjadi awal lahirnya berbagai kolaborasi yang mampu menghadirkan manfaat lebih luas bagi perempuan, anak-anak, keluarga, dan masyarakat Indonesia.

Karena ketika ilmu bertemu kepedulian, dan gotong royong bertemu keberanian untuk berubah, harapan akan selalu menemukan jalannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top